Noor Din M Top TertangkapBuronan teroris Noordin M Top diduga tertangkap  dalam penyerbuan disertai baku tembak di Kecamatan Kedu, Kabupaten  Temanggung, oleh Detasemen Khusus 88 Mabes Polri.  Penangkapan  buron teroris itu terjadi pada pukul 17.00 setelah Densus 88  menggerebek dan kemudian mengepung rumah kontrakan di area pesawahan di  Kedu itu.  Penggerebekan dimulai sekitar pukul 15.45 WIB ke rumah milik Mohzahri  (70) di Desa Beji, RT 01/07, Kelurahan Kedu, Kecamatan Kedu, Temanggung.  Penggerebakan  dilakukan setelah Densus 88 Mabes Polri menangkap dua pria, yakni Indra  (35) dan Aris (38) di Parakan Temanggung yang keduanya adalah keponakan  Mohzari.

Noordin M Top dikabarkan tertangkap polisi  di Jawa Tengah. Namun, belum diketahui apakah penangkapan Noordin  terkait dengan penggerebekan di Temanggung, Jateng.   "Polisi masih menyangkal mereka menangkap Nordin di Jawa Tengah," kata koresponden Al Jazeera seperti dikutip dari Al Jazeera.net, Jumat (7/8/2009).   "Namun sumber yang sangat dipercaya menyebutkan mereka menangkap laki-laki yang mirip Noordin M Top," kata dia.   Wakadiv Humas Mabes Polri Sulistyo Ishak menyatakan belum mengetahu perihal tertangkapnya Noordin. "Belum ada info tentang hal tersebut," jelasnya.

Noordin  adalah anggota kunci dari Jemaah Islamiyah, Jaringan Al Qaeda yang  ingin mendirikan negara Islam di Asia Tenggara. Namun, grup yang  dipimpin Noordin bercerai dari JI setelah dituduh menjadikan masyarakat  sipil sebagai target.  Sampai berita ini diturunkan belum ada keterangan resmi tentang status Indra dan Aris dalam aksi terorisme di Indonesia. (*)

Tidak ada. Tidak ada," kata Kepala Detasemen Khusus Antiteror 88  Kepolisian Daerah Jakarta, Ajun Komisaris Besar Angesta Romano Yoyol,  melalui sambungan telepon, Jakarta (7/8).  Sebelumnya beredar informasi bahwa polisi sudah menciduk Noor Din di Bandung, Jawa Barat tadi siang.   Yoyol juga membantah ketika ditanyakan adanya penangkapan di Bandung. "Tidak ada," ujarnya singkat.

Sebelumnya,  Kantor berita Al Jazeera mengungkapkan, "Secara resmi polisi masih  menolak bahwa mereka telah menangkap Noordin Top di Jawa Tengah, namun  sumber yang sangat dipercaya di lapangan telah memberitahukan kami  menangkap seorang laki-laki yang sangat mungkin adalah Noor Din M Top,"  ujar Step Vaessen, koresponden Al Jazeera.

Selalu Menyamar Gunakan Cadar 
Polisi mengklaim perkembangan penyidikan kasus bom Mega Kuningan  berdarah menunjukkan peningkatan. Tapi, korps bersemboyan Rastra  Sewakotama itu masih pelit pernyataan. Itu karena mereka tak hanya  menangkap gembong utama Noordin Moh Top saja, tapi sekaligus kaki  tangannya. ”Informasi apapun dari masyarakat soal Noordin akan  berguna,” ujar Kadivhumas Mabes Polri Irjen Nanan Soekarna pada  wartawan di Mabes Polri kemarin ( 28/07). Nanan menolak memberikan  informasi terbaru terkait perkembangan pengejaran. ”Jangan lupa, mereka  punya teknik, mereka juga nonton televisi dan baca koran,” kata mantan  Kapolda Sumatera Utara itu. 

Sumber kredibel JPNN di lingkungan Mabes Polri menjelaskan,  pengejaran memang fokus pada Noordin. ”Dia tertangkap, Insya Allah  semua selesai,” kata perwira menengah itu. Langkah polisi menyusuri  fakta-fakta yang muncul di tempat kejadian perkara (TKP) benar-benar  membawa petunjuk. 

”Istilah back to basic atau kembali ke temuan TKP itu dalam kasus  ini sangat membantu. Kita bukan berangkat dari dugaan-dugaan,” katanya.  Salah satu fakta yang ditemukan adalah rangkaian bom yang identik  dengan bom milik kelompok Noordin. Serpihan melamin yang ditemukan di  ground zero (titik ledak) JW Marriott juga semakin menunjukkan bahwa  bom berdaya ledak rendah itu menggunakan Tupperware yang dimodifikasi.  ”Itu rangkaian ala Palembang,” katanya merujuk temuan Densus 88 pada  penggerebekan Oktober 2008 di kota empek-empek itu.

Sekarang, tim pengejar, yakni Detasemen Khusus 88 Mabes Polri  dibantu sebagian anggota Satgas Bom masih fokus di Jawa Tengah. ”Pakai  teknik tandan pisang. Yakni ada tim utama yang mengkomando pengejaran  dan ada tim-tim berupa unit-unit kecil yang menyebar di sekitar tim  pokok itu,” katanya sembari menolak menyebut total jumlah personel yang  dilibatkan. ”Anda mau teroris menyiapkan senjata lebih,” kilah sumber  itu. Menurut sumber itu, Noordin licin karena kemampuan persuasi lisan  yang sangat kuat. ”Kami menduga teknik lama digunakan, yakni menyamar  sebagai wanita menggunakan burqah atau cadar,” katanya. Teknik burqah  itu juga diduga digunakan Noordin usai penggerebegkan Wonosobo yang  gagal pada April 2006. 

Bagaimana dengan nama-nama lain, seperti Ibrahim dan Nur Sahid?  Menurut sumber itu, mereka tetap diburu oleh aparat Densus 88 di level  Polda. ”Jangan lupa Densus 88 tak hanya di Mabes Polri, ada juga di  Polda-Polda,” katanya. Sedangkan aparat berlambang burung hantu di Mabes Polri sedang  menajamkan mata mencari buron utama asal Malaysia itu. Pada Januari  sampai Maret 2009 Noordin sempat terdeteksi di Makassar, Sulawesi  Selatan. Lalu April hingga Juni 2009 di Cilacap, Jawa Tengah.

Kok tidak ditangkap? ”Terdeteksi itu artinya ada laporan  pergerakan. Kita punya informan. Di lapangan bukan berarti semua  informasi bisa langsung dieksekusi, ada mekanisme pengecekan,” kata  sumber itu. Dari informasi yang dihimpun koran ini, tim utama Densus 88  masih berada di Banyumas, Jawa Tengah atau lebih dikenal sebagai posko  hotel Arya Guna. Dua tim kecil ke Kendal, Jawa Tengah. Di daerah Boja,  Kendal, Nur Sahid dan Maruto yang diduga tahu tentang Noordin sempat  terpantau radar polisi pada 2007. ”Noordin lincah. Bisa saja dia  memakai teknik kembali ke TKP lama agar mengaburkan jejak, kita tak mau  kecolongan,” kata sumber itu.  

Lalu, dua tim di Cilacap, Jawa Tengah. Tepatnya di daerah Binangun,  lokasi terakhir mertua Noordin Baridin (buron) dan Saefuddin Zuhri yang  tertangkap. Dua orang ini diduga lapis utama Noordin. Satu tim masih di  Jogjakarta. Mereka mengawasi daerah Kumendaman Sosrowijayan. Baridin  pernah punya rumah disitu. ”Ada sebuah pondok pesantren di Sleman yang  juga dipantau,” kata sumber itu. Lalu satu tim di Boyolali, Jawa  Tengah. Mereka memonitor daerah sekitar Simo, lokasi yang diduga  sebagai jalur transit bahan peledak untuk bahan pembuatan bom Jakarta  17 Juli lalu.

Tim lain bergeser di Malang. Mereka menyisir daerah Batu, lokasi  Hendrawan alias Husaini Ismail warga Singapura pernah tinggal selama  lima tahun, Noordin diduga pernah minta bantuan finansial pada  Hendrawan. ”Husaini mengakui pernah bertemu Noordin,” kata sumber itu.  Meski ada yang mobile ke Malang, jalur ”pisang tandan” Densus 88 tetap  fokus di Jawa Tengah. ”Lokasinya memang sangat memudahkan untuk berlari  tanpa jejak, di sekitar Baturaden kaki Gunung Slamet misalnya, ada  vilka-vila murah yang bisa disewa tanpa identitas,” kata sumber itu.  Soal Jateng-DIY sebagai basis pergerakan teroris itu juga diakui oleh  Kepala Staf Kodam IV/Diponegoro Brigjen TNI Langgeng Sulistiyono.

”Kultur masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi yang masih  rendah di beberapa wilayah di kedua daerah itu, menjadikan mereka mudah  dipengaruhi oleh paham-paham yang diajarkan para teroris,” ujar  Langgeng saat ditemui di sela-sela seminar nasional PPSA XVI Lembaga  Ketahanan Nasional (Lemhanas). Langgeng mengatakan, orang-orang yang  dicurigai sebagai aktor beberapa aksi teror di Indonesia, telah lama  berada di Jawa Tengah dan sekitarnya, dan mereka membangun sel-sel baru  setiap saat. Mereka, lanjut Langgeng, bahkan kini tidak hanya menyasar  masyarakat dengan tingkat pendidikan dan penghasilan rendah.

”Mereka bahkan telah menyusup dan mempengaruhi para pemuda,  mahasiswa di kampus-kampus. Dan mereka sangat tekun dan sabar untuk  mempengaruhi para pemuda dan mahasiswa tersebut, dan sebagian  berhasil,” ujar Langgeng. Jenderal bintang satu itu mengatakan, teroris diduga membangun jaringan  di DIY dan Jateng. ”Tetapi mereka beroperasi di luar daerah itu. Dengan  tetap membangun jaringan pula di daerah lain. Namun, para aktor teror  itu masih memilih DIY dan Jateng jadi pusat kegiatan mereka,” katanya.  Hal tersebut sudah disampaikan kepada pimpinan daerah bersangkutan agar  benar-benar mewaspadai dan menyadarkan masyarakat agar tidak mudah  terpengaruh. ”Kita sosialisasi sampai tingkat RT,” ujarnya. 

Paling Licin
Kepala Desk Anti Teror Menkopolhukam  Ansyad Mbai mengakui jejak Noordin benar-benar licin. ”Dia musuh yang  sangat berbahaya bagi kedaulatan Indonesia. Dia musuh rakyat,” kata  mantan Kapolda Sumatera Utara itu. Dari data yang dihimpun koran ini,  sejak keluar dari Kamp Hudaibiyah Moro, Filipina pada 1998 lalu dan  masuk Ternate, Noordin tak pernah bisa ditangkap aparat. 

Ketika ke Jawa pada akhir 1999 lalu dan dilanjut dengan memimpin  serangkaian pemboman Gereja di Sumatera, nama Noordin masih belum  menjadi target utama. Pun ketika gelombang penangkapan pasca Bom Bali I  pada 2002, meski namanya telah masuk dalam daftar pencarian orang,  Noordin belumlah menjadi TO (target operasi) utama. ”Peran Noordin di  Bom Bali I memang tak signifikan. Perannya hanyalah mengantarkan  Azahari, dosennya, ke Tenggulun,” ucap seorang anggota senior JI kepada  JPNN. Lebih dari itu tidak. Karena ilmu merakit bom Noordin masih kalah  jauh dengan anggota-anggota lainnya. ”Kemampuan utamanya bukanlah  militer. Tapi penanaman dan persuasi ideologis,” tambah ustad senior  ini

Selepas penangkapan sejumlah tokoh utama JI itulah, peran Noordin  menjadi vital dalam gerakan faksi sempalan JI garis keras. Ini tak  lepas dari Dr. Azahari. Setelah Ali Ghufron, Imam Samudera, Ali Imron,  dan sejumlah nama tenar lainnya tertangkap, praktis yang ”tertinggi”  ilmu merakit bomnya adalah Dr. Azahari. Duet maut dosen-mahasiswa asal  Malaysia, Dr. Azahari-Noordin Mohd Top ini kemudian menjadi momok.  Keduanya pernah nyaris ditangkap di sebuah pasar di Bogor pada 2002  lalu, tapi kemudian lolos karena dua-duanya mengenakan rompi bom. ”Bila  ditangkap serampangan, kami khawatir keduanya meledakkan bomnya dan  banyak korban yang berjatuhan,” ucap seorang petugas yang saat itu  menangani kasus tersebut. 

Tak lama kemudian, polisi menggerebek sebuah rumah kontrakan di  dekat kawasan Unisba, Bandung. Namun, polisi hanya menangkap angin.  Karena duet bomber Malaysia tersebut baru beberapa jam sebelumnya telah  keluar. Diduga untuk lebih mengamankan, Dr. Azahari dan Noordin sengaja  memisahkan diri, meski tetap erat berkomunikasi. Jejak Noordin pernah  terlacak di Medan, sekitar awal 2003. Ketika itu, polisi juga menangkap  Tomi Togar dan Sardona Siliwangi, kedua anggota JI yang terlibat  perampokan toko emas untuk pembiayaan aksi terornya. Namun, lagi-lagi  polisi menangkap angin. Kedua anggota JI itu ditangkap, tapi Noordin  lolos. Duet keduanya kemudian menghasilkan serangan Bom Marriott I pada  2003 dan Kedutaan Australia pada 2004. Keduanya diyakini bergerak terus  berpindah-pindah. Mulai dari kawasan Wonosobo, Boyolali, Serang,  Cilacap, hingga kemudian masuk ke Jawa Timur pasca serangan Bom di  Kedutaan Australia. Buktinya, Noordin sempat menikahi Munfiatun, wanita  asal Bangil, yang kemudian sempat dihukum. 

Lama tak terlacak, polisi kemudian mendapati jejaknya di kawasan  Surabaya. Dipercaya bergabung dengan Azahari, pada 2005 Noordin  kemudian bersembunyi di sejumlah rumah di kawasan Tambakasri, Sidotopo  Lor, Kedinding, dan Pulo Wonokromo. Tak sekedar bersembunyi, tapi juga  menyiapkan serangan bom dan mengirim sejumlah bahan peledak ke Poso.  Tapi seperti biasa, polisi terlambat. Bukan hanya beberapa jam seperti  di Unisba, tetapi malah beberapa hari. Di Surabaya, polisi sempat  tersandung masalah. Ini setelah Syaifudin Umar alias Abu Fida, warga  Sidotopo yang diduga pernah menyembunyikan keduanya dan diamankan,  tiba-tiba pulang dalam kondisi “setengah gila” dengan baju acak-acakan  di RSU dr. Soetomo. 

Karena tak aman lagi di Surabaya, duet tersebut kemudian pindah dan  memisahkan diri. Azahari pindah ke Batu (dan kemudian ditembak mati  pada November 2005 lalu), sementara Noordin pergi ke Semarang. Di  Ngawi, lagi-lagi Noordin sempat menikah. Noordin nyaris tertangkap  sesaat setelah Azahari ditembak. Ini setelah polisi mengejar dan nyaris  menangkap Teddy alias Mubarok, tangan kanan sekaligus kurir lapis  terakhirnya di Simpang Lima. Apa lacur, Teddy meloloskan diri setelah  terjadi baku tembak antara keduanya. Pada Maret 2006, jejak Noordin  terlacak di Wonosobo, Jawa Tengah. Polisi kemudian menggerebek sebuah  rumah, dan menewaskan Abdul Hadi dan Jabir, dua tangan kanan Noordin.  Abdul Hadi adalah perencana Bom Kedutaan Australia sementara Jabir  adalah ahli bom binaan langsung almarhum Dr. Azahari. Tapi, Noordin  lagi-lagi lolos. Diduga kuat, dari pelacakan jejak, Noordin lari ke  arah Purwokerto. Sejak itu, seiring tak pernah ada serangan bom lagi,  jejak Noordin pun semakin sulit dilacak. Secara samar-samar, pada awal  2007, Noordin diperkirakan berada di Palembang. “Ini yang membingungkan  kami. Bagaimana dia (Noordin, red) bisa menyeberang ke Sumatera,” kata  sumber tersebut.

Jejaknya baru terendus lagi pada pertengahan 2008 lalu. Ketika itu,  polisi mengintai sebuah kelompok baru di Palembang yang “rajin” merakit  bom. Akhirnya kelompok pimpinan Abdurrahman Thaib tersebut digerebek  pada November 2008 lalu.   ”Sebenarnya kami mendapat informasi Noordin akan ke rumah itu. Namun,  karena bom yang dibuat sudah sangat banyak, kami langsung  menggerebeknya,” tambahnya. Petugas takut bila tak segera menggerebek,  bom-bom tersebut sudah beredar ke mana-mana.

Untunglah, Densus 88 bisa meringkus Kasiman Marindra alias Usamah  alias Abu Zar alias Salim alias Udin pada 9 Mei 2009. Dari Kasiman itu,  nama Saefuddin Zuhri muncul. Saat diringkus tanpa perlawanan 21 Juni  lalu, Saefuddin menyebut nama Baridin. Tapi yang dituding tampaknya  sudah peka akan tertangkap. Dia lari bersama sang menantu yang diduga  Noordin M Top. Saat ini anak Baridin masih diperiksa polisi. Dari  pengakuan wanita beranak dua itu, polisi berharap ada data-data baru. 

Tenggat Waktu Periksa Ariana
Pengacara Arina  Rahmah, Asluddin Hadjani, mengatakan bahwa hari ini adalah tenggat  waktu bagi polisi menahan Arina Rahmah, wanita yang dianggap istri  Noordin M Top. Dia berharap polisi segera memastikan status Arina.  ”Berdasarkan Undang-Undang Antiteror, besok (hari ini, red) adalah  batas waktu bagi polisi menahan Arina. Karena sudah 7 x 24 jam. Kalau  Arina yang putri Baridin (juga buron) itu terbukti tidak terlibat,  polisi harus segera melepaskannya,” kata Asluddin saat dihubungi JPNN  di Jakarta tadi malam.

Hingga kemarin, kata Asluddin, Arina masih dimintai keterangan  mengenai Ade Abdul Halim, suaminya yang diduga Noordin M Top. Arina  sendiri saat disodori foto buron paling dicari Densus 88 itu oleh  polisi, mengakui sangat mirip dengan suaminya. Polisi juga mengorek  informasi mengenai kebiasaan dan aktivitas Ade Abdul Halim saat hidup  bersama Arina.    Meski begitu, Asluddin mengatakan bahwa kesaksian Arina tidak menjamin  bahwa suami Arina adalah Noordin M Top. Menurut dia, masih terlalu dini  untuk menyatakan itu. 

Asludin mengatakan, semua kesaksian Arina itu disampaikan kepada  polisi dalam kapasitas Arina sebagai saksi. Nah, apabila hari ini tidak  ada kepastian status keterlibatan Arina, polisi harus melepaskannya.  Apalagi, kata Asluddin, Arina tidak memiliki keterlibatan dalam kasus  tersebut. Sebab, Arina tidak dengan sadar dan ada niatan untuk  menyembunyikan Noordin M Top. ”Dia tidak tahu kalau lelaki yang dia  kawini itu Noordin. Yang dia tahu dia kawin dengan Ade Abdul Halim. Dia  juga tidak pernah tahu siapa suaminya kecuali bahwa dia mengaku bekerja  di sebuah pesantren di Makassar,” katanya. Jika sang suami sedang  berada di luar Cilacap, dia tak pernah menghubungi menggunakan telepon  genggam. ”Hanya kirim surat lewat Baridin,” kata Asludin.  

  Yang paling tahu siapa suami Arina, kata Asluddin, adalah Baridin.  Sebab, dia adalah orang yang menjodohkan Arina. Semua informasi dan  keterangan detail tentang Ade Abdul Halim ada pada Baridin yang ayah  Arina itu. Dia kini ikut menghilang. ”Itupun belum tentu Baridin tahu  bahwa Ade adalah Noordin,” katanya. Asluddin juga pengacara yang ikut  mendampingi Saefuddin Zuhri. Kata dia, pemeriksaan terhadap Saifuddin  hampir rampung. Saat ini, pemeriksaan terhadap lelaki yang ditangkap di  Cilacap pada Juni lalu itu hampir rampung. Tinggal melengkapi kesaksian  pendukung dari pihak lain. ”Pemeriksaannya masih mengenai bom yang di  Palembang. Sudah hampir selesai,” ujarnya.

Video terkait

REFERENSI :
1. http://www.detiknews.com/read/2009/08/07/203922/1179550/10/al-jazeera-no...
2. http://www.antara.co.id/berita/1249653924/noordin-m-top-diduga-tertangkap
3. http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2009/08/07/brk,20090807-191427,i...
4. http://batampos.co.id/Utama/Utama/Noordin_Dikabarkan_Tertangkap.html
5. Aljazeera.net