Mahasiswa sebagai bagian dari kaum intelektual membuat suara dan aspirasinya mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap arah kebijakan pemerintah. Tidak salah jika waktu rezim orde baru masih berkuasa, diterapkan peraturan yang mengebiri mahasiswa untuk berpikir kritis terhadap kondisi politik sosial kebangsaan dengan nama NKK/BKK. Kebijakan NKK dilaksanakan berdasarkan SK No.0156/U/1978 sesaat setelah Daoed Yusuf dilantik tahun 1979. Konsep ini mencoba mengarahkan mahasiswa hanya menuju pada jalur kegiatan akademik dan menjauhkan dari aktivitas politik karena dinilai secara nyata dapat membahayakan posisi rezim. Sejak 1978 itulah, ketika NKK/BKK diterapkan di kampus, aktivitas kemahasiswaan kembali terkonsentrasi di kantung-kantung himpunan jurusan dan fakultas. Mahasiswa dipecah-pecah dalam disiplin ilmunya masing-masing. Ikatan mahasiswa antarkampus yang diperbolehkan juga yang berorientasi pada disiplin ilmunya. Misalnya, ada Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (ISMEI), Ikatan  Pertanian Indonesia (ISMPI) dan sebagainya.


Apa yg anda dapat dari Universitas

“Saya mahasiswi semester 4 jurusan Teknik Informatika di sebuah perguruan tinggi di Malang Sudah hampir 2 tahun saya kuliah, terkadang saya merasa nggak tambah pinter, kalau tambah sibuk sih iya karena tugas dari dosen yang kayak bom. Sebenarnya di kampus itu apa yang kita dapat sih mas?” (xxx – Karangan, Trenggalek).

Ini termasuk juga pertanyaan yang banyak masuk ke kotak email saya. Sudah keterima di universitas dan mulai belajar, tapi kadang masih nggak ngeh hakekat belajar. Lha katanya disuruh menimba air eh ilmu, nah ilmunya ini sebenarnya apa sih?

Dik xxx, kita belajar itu, baik di sekolah, di kampus, di universitas dan di lembaga pelatihan untuk meningkatkan KSTAE atau kata orang galek (a)PeKTeSiPeng, waduh apaan tuh?  KSTAE itu Knowledge, Skill, Technique, Attitude, Experience alias (a)PeKTeSiPeng (Pengetahuan, Keterampilan, Teknik, Sikap dan Pengalaman). Ini kalau kita ambil contoh orang belajar naik motor dan belajar di kampus, mungkin penjelasannya seperti di bawah:

KNOWLEDGE (Pengetahuan): Kita jadi tahu bahwa di motor ada lampu, stang kemudi, rem, gas, spion, bel. Kita juga tahu cara bagian motor itu bekerja termasuk gimana njalaninya. Kalau kita belajar pemrograman, ya kita ngerti lah apa itu fungsi, apa itu variable, juga apa itu object, apa itu method, apa itu attribute. Kita juga diajarin banyak lagi pengetahuan, sistem basis data, rekayasa perangkat lunak, pemrograman berorientasi objek, software project management, dsb. Pokoknya yang selama ini bikin pusing itulah knowledge. Lho kenapa bikin pusing? Soalnya kampus kadang nggak imbang ngasih knowledge dan keterampilan, alias besar teori daripada praktek


Cara memahami paper untuk tugas akhir, skripsi, disertasi dan karya ilmiahBulan-bulan ini nuansa sibuk mahasiswa semester akhir makin pekat terasa, kampus sepi dari canda gurau mereka dulu semasa semester awal dan tengah. Maklum masa tugas akhir sudah hampir mencapai puncaknya dengan pengumpulan makalah. Musim mengerjakan tugas akhir, berarti musim membaca makalah alias paper ilmiah alias scientific paper biasanya sih tinggal googling udah dapet. Membaca paper bagus untuk dasar materi dan referensi. Banyak yang beranggapan bahwa konsentrasi membaca paper ilmiah adalah pada aspek teknis technical aspect.

Padahal ngotot fokus ke aspek teknis dari paper ilmiah akan membuat kita pusing, puyeng, mual, ngantuk, dan ga ngerti juntrungnya. Meskipun ada juga mahasiswa yang nekat memahami satu paper ilmiah sampai perlu waktu berbulan-bulan. Padahal sebenarnya kekuatan paper ilmiah bukan hanya dilihat dari aspek teknis. Nah lho, terus di bagian mana sebaiknya kita konsentrasi membaca sebuah paper ilmiah?